Atjeh Tram, Jalur Kereta Api Lintas Aceh

Atjeh Tram, Jalur Kereta Api Lintas Aceh

Kantor pusat Banda AcehAcehHindia Belanda
LokalAceh
Tanggal beroperasi1882–1942
PendahuluKNIL
PenerusPT Kereta Api Indonesia
Teknis
Lebar sepur750 mm (2 ft 5 12 in)
Sepur sebelumnya1.067 mm (3 ft 6 in)
Panjang jalur528 Km

Atjeh Tram (AT), setelah tahun 1916 berganti nama menjadi Atjeh Staatsspoorwegen (ASS), adalah nama perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia-Belanda dan merupakan divisi dari Staatsspoorwegen yang membangun dan mengoperasikan jalur kereta api dengan gauge 750 mm di wilayah Aceh dari 1 Januari 1882 s.d. 1942.

Jalur kereta api lintas Aceh ini adalah segmen jalur kereta api nonaktif yang dahulu pernah dioperasikan oleh Atjeh Tram dan terus beroperasi hingga masa-masa indah PJKA pada tahun 1974–1976. Hingga kini jalur ini masih dalam tahap reaktivasi oleh DJKA sebagai bagian dari pengembangan jalur kereta api Trans Sumatra. Perlu diingat bahwasannya dalam proses reaktivasi ini DJKA tidak sepenuhnya menggunakan trase milik AT/ASS.

Dibangun olehAtjeh Tram/Atjeh Staatsspoorwegen
Direktorat Jenderal Perkeretaapian
Dibuka1884-1917
Ditutup1976
Dibuka kembali2013 (Krueng Geukueh – Krueng Mane)TBA(Besitang – Krueng Geukueh(Krueng Mane – Ulee Lheule)
PemilikPT Kereta Api Indonesia (pemilik aset bangunan dan stasiun)
OperatorDivisi Regional I Sumatra Utara dan Aceh
Karakteristik lintasLintas datar
Depo
Data teknis
Panjang lintas528 km (AT/ASS)
TBA (DJKA)
Lebar sepur750 mm (2 ft 5 12 in) trase AT/ASS
1.067 mm (3 ft 6 in) segmen Besitang–Kutablang
1.435 mm (4 ft 8 12 in) segmen Kutablang–Krueng Geukueh
Kecepatan operasi30 km/jam

Pada tahun 1876, Tentara Belanda (KNIL) membangun jalur kereta api dengan lebar sepur 1067 mm dari Pelabuhan Ule Lhee menuju Kuta Raja dengan panjang lintasan 5 Km, jalur tersebut digunakan untuk mempermudah pengangkutan alat perang.

Besi yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut berasal dari Singapura, Sementara kayu-kayu untuk bantalan rel berasal dari Malaka. Rel dan rolling stock dipesan daro Inggris melalui Konsul Jenderal Belanda di Singapura. Pada tanggal 5 Mei 1875, seluruh pesanan tiba dari Inggris, termasuk dua lokomotif 0-6-0ST dari Fox Walker. Lokomotif ketiga 0-4-0T dipesan dari Hohenzollern, bersama dengan 3 lokomotif yang lebih identik untuk pelabuhan Batavia. Semua 3 lokomotif Aceh dipindahkan ke SS Jawa sekitar tahun 1884–1885.

Karena kurangnya tenaga kerja, jalurnya tidak selesai sampai bulan September 1876. Lintasan itu berada di tanggul rendah dan melintasi dataran datar berawa, dengan dermaga, jembatan, dan tanpa sistem persinyalan.

Pada tanggal 1 Januari 1882 sebuah pemerintahan sipil diberlakukan di Aceh. Hak jalur tersebut dipindahkan ke Burgerlijk Openbare Werken (BOW, bagian dari layanan sipil pemerintah. Departemen ini terlibat dalam rencana pembangunan jalur tram di daerah setempat dan juga jalur untuk terhubung dengan Langsa di pantai timur di seberang Singapura. Di sisi lain militer juga masih membutuhkan jalur kereta api dan juga membutuhkan perpanjangan di pantai timur. Pada tahun 1884 dicapai kesepakatan bahwa jalur tersebut akan diambil alih oleh Atjeh Tram, walaupun untuk sementara masih dioperasikan oleh BOW yang digunakan secara luas oleh militer di bagian pantai timur, sampai pada tahun 1916 ketika menjadi bagian dari Staatspoorwegen dengan nama Atjeh Staatsspoorwegen (ASS).

Atjeh Tram dari tahun 1874–1882

Antara pantai dan Kota Radja terbentang sebidang tanah seluas kurang-lebih 5 Km yang terdiri atas tanah lumpur dan rawa-rawa, Di tanah tersebutlah banyak artileri milik KNIL yang tenggelam selama peristiwa ekspIdisi Aceh berlangsung, inilah yang menjadikan alasan untuk membangun rel kereta api antara Pelabuhan Olee Lhe sampai dengan Kota Radja.

Pada tanggal 26 Juni 1874, Gubernur Jenderal James Loudon mengumumkan sebuah rencana pembangunan infrastruktur perkereretaapian dengan lebar jalur 1067 mm di Aceh. Di Olee Lhe sebuah dermaga kereta api juga akan dibangun di tepi laut. Dibawah komando KNIL, pembangunan sebuah jalur tram antara Olee Lhee sampai dengan Kota Radja dimulai. Besi yang dibutuhkan untuk dermaga berasal dari Singapura, kayu-kayu untuk bantalan rel didatangkan dari Malaka, sedangkan rel dan rolling stock-nya dipesan dari Inggris melalui Konsul Jenderal Belanda di Singapura.

Pada tanggal 5 Mei 1875 seluruh pesanan datang dari Inggris. Karena kurangnya kuli, jalurnya belum siap hingga September 1876. Lintasan itu di elevasi yang rendah serta lintasan yang melalui medan datar, dermaga dan jembatan dibangun di atas tumpukan besi. Jalur kereta tersebut tanpa ada sistem persinyalan. Untuk di wilayah Kraton, jalur diletakkan pada pintu masuk area pertahanan yang dapat ditutup dengan gerbang dan dikunci. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial menyatakan telah berhasil dalam pemabgunan jalur kereta tersebut pada tahun-tahun pertama tanpa ada pengelola resmi.

Pada tahun 1876, Tentara Belanda (KNIL) membangun jalur kereta api dengan lebar sepur 1067 mm dari Pelabuhan Ule Lhee menuju Kuta Raja dengan panjang lintasan 5 Km, jalur tersebut digunakan untuk mempermudah pengangkutan alat perang.

Besi yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut berasal dari Singapura, Sementara kayu-kayu untuk bantalan rel berasal dari Malaka. Rel dan rolling stock dipesan daro Inggris melalui Konsul Jenderal Belanda di Singapura. Pada tanggal 5 Mei 1875, seluruh pesanan tiba dari Inggris, termasuk dua lokomotif 0-6-0ST dari Fox Walker. Lokomotif ketiga 0-4-0T dipesan dari Hohenzollern, bersama dengan 3 lokomotif yang lebih identik untuk pelabuhan Batavia. Semua 3 lokomotif Aceh dipindahkan ke SS Jawa sekitar tahun 1884–1885.

Karena kurangnya tenaga kerja, jalurnya tidak selesai sampai bulan September 1876. Lintasan itu berada di tanggul rendah dan melintasi dataran datar berawa, dengan dermaga, jembatan, dan tanpa sistem persinyalan.

Pada tanggal 1 Januari 1882 sebuah pemerintahan sipil diberlakukan di Aceh. Hak jalur tersebut dipindahkan ke Burgerlijk Openbare Werken (BOW, bagian dari layanan sipil pemerintah. Departemen ini terlibat dalam rencana pembangunan jalur tram di daerah setempat dan juga jalur untuk terhubung dengan Langsa di pantai timur di seberang Singapura. Di sisi lain militer juga masih membutuhkan jalur kereta api dan juga membutuhkan perpanjangan di pantai timur. Pada tahun 1884 dicapai kesepakatan bahwa jalur tersebut akan diambil alih oleh Atjeh Tram, walaupun untuk sementara masih dioperasikan oleh BOW yang digunakan secara luas oleh militer di bagian pantai timur, sampai pada tahun 1916 ketika menjadi bagian dari Staatspoorwegen dengan nama Atjeh Staatsspoorwegen (ASS).

Atjeh Tram dari tahun 1874–1882

Antara pantai dan Kota Radja terbentang sebidang tanah seluas kurang-lebih 5 Km yang terdiri atas tanah lumpur dan rawa-rawa, Di tanah tersebutlah banyak artileri milik KNIL yang tenggelam selama peristiwa ekspIdisi Aceh berlangsung, inilah yang menjadikan alasan untuk membangun rel kereta api antara Pelabuhan Olee Lhe sampai dengan Kota Radja.

Pada tanggal 26 Juni 1874, Gubernur Jenderal James Loudon mengumumkan sebuah rencana pembangunan infrastruktur perkereretaapian dengan lebar jalur 1067 mm di Aceh. Di Olee Lhe sebuah dermaga kereta api juga akan dibangun di tepi laut. Dibawah komando KNIL, pembangunan sebuah jalur tram antara Olee Lhee sampai dengan Kota Radja dimulai. Besi yang dibutuhkan untuk dermaga berasal dari Singapura, kayu-kayu untuk bantalan rel didatangkan dari Malaka, sedangkan rel dan rolling stock-nya dipesan dari Inggris melalui Konsul Jenderal Belanda di Singapura.

Pada tanggal 5 Mei 1875 seluruh pesanan datang dari Inggris. Karena kurangnya kuli, jalurnya belum siap hingga September 1876. Lintasan itu di elevasi yang rendah serta lintasan yang melalui medan datar, dermaga dan jembatan dibangun di atas tumpukan besi. Jalur kereta tersebut tanpa ada sistem persinyalan. Untuk di wilayah Kraton, jalur diletakkan pada pintu masuk area pertahanan yang dapat ditutup dengan gerbang dan dikunci. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial menyatakan telah berhasil dalam pemabgunan jalur kereta tersebut pada tahun-tahun pertama tanpa ada pengelola resmi.


Leave a Reply

Your email address will not be published.